Kamis, 30 Juni 2011

yakusoku (promise..) part 7


7.  Aku dan Kame

Perkenalkan..namaku Yuki, dan ini adalah kisah hidupku...............
            Aku tinggal seorang diri disebuah rumah ditengah hutan Mountdew. Kedua orangtuaku telah lama meninggal. Bertahun-tahun aku selalu merasa kesepian.
            Pagi itu seperti biasanya......Aku berbaring ditengah padang rumput disebelah rumahku. Kupejamkan mataku. Kubiarkan embun pagi direrumputan membasahi rambutku. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membelai lembut wajahku. Anehnya pagi ini aku tidak mendengar suara burung-burung yang berkicau menyambut hangatnya matahari pagi. Sepi_terlalu sepi....
            Aku berdiri..kubenahi gaunku yang kusut dan sedikit basah terkena embun pagi. Kuikat rambutku yang panjang diatas tengkukku. Kutolehkan kepalaku kekiri dan kekanan, waspada_penuh curiga melihat keadaan disekitarku.
            Dikejauhan aku melihat sesosok bayangan, duduk bersandar dibawah pohon.
            Penasaran_aku perlahan-lahan berjalan menghampirinya. Aku berusaha berjingkat-jingkat meredam suara langkah kakiku.
            Aku berdiri beberapa meter dari sosok bayangan itu. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas_tertutup oleh bayangan pohon. Rupanya dia seorang pemuda. Tubuhnya tergolek lemah_terluka. Noda merah terlihat kontras dikulitnya yang putih pucat.
            Kuberanikan diri mendekatinya.
            Dia memalingkan wajahnya padaku. Sekilas menatapku lalu menunduk, mengabaikan kehadiranku.
            Jantungku berdebar kencang..saat dia menatapku, aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia sangat tampan_terlalu sempurna. Seperti seorang malaikat yang turun dari langit, malaikat yang terluka. Bajunya yang hitam membuat kulitnya yang putih terlihat semakin pucat.
            Aku duduk bersimpuh disebelahnya.
            “Kau terluka....”, kataku lirih.
            Dia memalingkan wajahnya, menatapku untuk kedua kalinya dan berhasil membuat jantungku semakin berdebar-debar.
            “Apa...?? Luka..?? Ini sih masalah sepele”, katanya dingin.
            Suaranya terdengar sangat merdu ditelingaku, bagai sebuah candu yang memabukkan. Aku ingin mendengar suara itu lagi dan lagi.
            Aku terdiam_terpesona mendengar suaranya.
            Pemuda itu menahan sakit, mengangkat tangan kanannya. Telapak tangan kanannya menyentuh luka ditubuhnya. Dari bawah telapak tangannya itu samar-samar aku bisa melihat seberkas cahaya putih berpendar lemah. Semakin lama cahaya itu bersinar semakin kuat_menyilaukan mata.
            Kupicingkan mataku, berusaha melihat apa yang sedang terjadi.
            Luka ditubuh pemuda itu perlahan-lahan mulai menutup dan menghilang tanpa bekas. Seakan-akan luka itu tidak pernah ada.
            Aku terkejut..Aneh, seharusnya aku merasa takut_tapi kenapa aku malah semakin terpesona padanya.
            “Tuh kan....apa kataku...ini sih masalah sepele”, kata pemuda itu, membanggakan dirinya sendiri.
            Aku masih memandanginya dengan takjub.
            Pemuda itu balik menatapku dengan heran.
            “Hei...kau gadis yang aneh”, katanya sambil menatapku dengan penuh selidik. “Seharusnya kau takut melihatku”, tambahnya padaku. “Seharusnya sebagai orang yang normal kau lari ketakutan saat melihatku”, dia mengulangi kata-katanya yang tadi seolah-olah menekankan padaku_seharusnya aku merasa ketakutan melihatnya.
            Aku tersenyum padanya. Senyum termanis yang bisa aku berikan.
            “Kau tidak takut padaku?”, pemuda itu berdiri disampingku.
            Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum lagi padanya.
            “Walaupun ku katakan padamu kalau aku adalah seorang demon?”, tanyanya tak percaya pada jawabanku.
            Aku terkejut mendengar pengakuannya. Mana mungkin pemuda setampan ini, sesempurna ini adalah seorang demon. Sebagian dari diriku mulai merasa takut, hati kecilku menjerit supaya aku pergi menjauhinya. Sebagian dari diriku yang lainnya berusaha menenangkanku, mendorongku untuk tetap tinggal bersamanya.
            Bingung.....apa yang harus kulakukan.
            Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. “Tenang Yuki...tenang...”, berusaha menenangkan diriku sendiri. “Walaupun dia demon, dia terlihat cukup baik. Kalau dia berniat jahat padamu, dengan mudah dia sudah menyerangmu dari tadi”.
            Aku tersenyum lagi padanya.
            “Aku tidak takut padamu.....kurasa....”, kataku lirih setengah berbisik_masih tidak percaya dengan jawabanku sendiri.
            “Bodoh kau Yuki!! Seharusnya kau bisa menjauhinya tapi sekarang kau tidak bisa lari menghindarinya. Kau harus menghadapinya. Kau tanggung resikomu sendiri”, jerit hati kecilku.
            Pemuda itu masih menatapku tidak percaya. Senyuman mulai terukir diwajahnya yang tampan. “Ha.....Ha......Ha......menarik.....sangat menarik!”, tawanya sangat keras dan lepas.
            Apa yang lucu dari jawabanku tadi....aku merasa bingung. Kenapa dia menertawakanku seperti itu.
            Dia mencondongkan badannya mendekatiku, dengan satu gerakan yang anggun dan gesit mengangkat tangan kanannya kearahku.
            Refleks_aku langsung memejamkan mataku.
            Dia membelai kepalaku dengan lembut.
            Aku dapat merasakan tangannya yang dingin, sedingin es menyentuh kepalaku.
            “Hmm....kau benar-benar gadis yang sangat menarik”, gumamnya. “Aku mulai menyukaimu”, katanya padaku. “Kau satu-satunya orang yang tidak takut melihatku, Kame salah satu dari demon yang terkuat didunia ini”, katanya sombong.
            Aku membuka kedua mataku, terkejut_entah kenapa juga merasa senang mendengar pernyataannya padaku. Aku ragu_apakah dia sedang mempermainkan perasaanku.
            Itulah pertemuan pertamaku dengan Kame, seorang demon. Sejak saat itu sedikit demi sedikit aku mulai mengenal Kame. Dia sering tiba-tiba datang mengunjungiku kemudian pergi menghilang meninggalkanku seorang diri.
            Pada awalnya, setelah kejadian itu sering terbersit dipikiranku apakah yang kulakukan ini benar atau salah. Aku....Yuki...seorang gadis biasa, yang menjalani hidupnya yang membosankan tiba-tiba berteman dengan seorang demon. Tapi segera kutepis keraguan itu. Aku tidak pernah mengeluh. Mungkin memang takdirku bertemu dengannya. Toh aku tidak pernah memandangnya sebagai seorang demon. Dibalik sikapnya yang acuh tak acuh padaku, kata-katanya yang agak ketus, dia bersikap sangat baik padaku.
            Mungkin aku egois_selama ini aku merasa kesepian. Aku butuh seorang teman untuk berbagi. Aku tidak peduli dia manusia atau pun demon, asalkan dia ada disisiku aku merasa puas.
            Mungkin dia juga merasakan hal yang sama padaku. Sebagai seorang demon yang ditakuti oleh sesamanya dan juga ditakuti oleh manusia, dia pasti juga merasa kesepian.
            Tanpa terasa_waktu cepat berlalu.
            Aku lupa_sejak kapan, tapi sekarang Kame selalu menemaniku. Dia jarang meninggalkanku sendirian. Sikapnya padaku pun telah berubah. Sekarang dia selalu bersikap lembut padaku, selalu melindungiku.
            Kini aku mencintainya dan aku yakin dia juga mencintaiku.
            Kami berjanji selalu bersama_tak terpisahkan.
            Aku sering memikirkan hal ini berkali-kali, bagaimana jika nanti aku mati. Bagaimanapun juga aku hanya manusia biasa. Hidupku sangat rapuh. Sementara Kame adalah seorang demon yang hidup abadi selamanya. Aku tak sanggup membayangkan Kame dalam kesendiriannya setelah kepergianku. Itu sangat menyakitkan.
            Kame menenangkanku..dia berjanji akan selalu mencintaiku, akan selalu menungguku walaupun aku harus mati dan bereinkarnasi berulang-ulang.
            “Bagaimana kalau aku mati? Aku takut....”, tanyaku lirih.
            “Aku akan selalu mencintaimu dan menunggumu dilahirkan kembali. Aku pasti akan selalu menemukanmu dimanapun kau berada”, Kame memelukku erat.
            “Bagaimana kalau aku melupakanmu?”, tanyaku ragu.
            “Aku akan membuatmu mencintaiku lagi bila itu yang engkau inginkan”, Kame menatapku lembut.
            “Aku ingin engkau selalu disisiku....aku ingin engkau selalu mencintaiku....aku ingin selalu mencintaimu....ah...aku memang egois”, aku terisak dipelukannya.
            “Kalau memang itu yang kau inginkan, Yuki....aku akan selalu ada disisimu, aku janji”, bisik Kame ditelingaku, menenangkanku yang mulai menangis.
            Aku ingin selalu bersamanya.....tapi sayangnya aku harus berpisah dengannya.
            Banyak demon yang mengincar Kame_beredar rumor didunia Underworld, demon yang meminum darah Kame akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Demon-demon itu selalu menggunakanku sebagai sasaran untuk melemahkan pertahanan Kame.
            Kame selalu berhasil melindungiku dan aku percaya padanya.
            Berbulan-bulan kami bertahan, melawan serangan para demon yang datang bertubi-tubi tanpa henti.
            Saat itulah Kame memutuskan untuk menyegel kekuatannya, menghilang dari dunia ini_meninggalkanku.
            “Aku tidak mau melihatmu terluka lagi”, suaranya sedikit tercekat saat mengatakannya padaku.
            Aku tahu dia ingin melindungiku, aku tahu dia tidak ingin melukaiku.
            Memikirkannya meninggalkanku_aku tidak sanggup. Lebih baik tubuhku terluka ratusan kali_aku bisa bertahan. Tapi bila harus kehilangannya_aku tidak sanggup menahan perih dihatiku.
            Keputusannya sudah bulat. Tidak ada sesuatu didunia ini yang bisa mengubah tekadnya.
            Aku merasa sedih_pasrah. Mungkin ini memang takdirku. Aku hanya bisa berharap dikehidupanku yang lain dapat bertemu lagi dengannya.
            Dipadang rumput inilah aku berjumpa dengannya dan dipadang rumput ini pula aku harus berpisah dengannya.
            Aku berdiri terdiam ditengah pada rumput ini. Mataku panas, air mataku mulai menetes membasahi pipi. Kuseka pipiku yang basah dengan tanganku. Aku tidak ingin terlihat sedih didepannya. Aku ingin melepas kepergiannya dengan senyuman.
            “Yuki.....Yuki....”, Kame memanggil-manggil namaku. Suaranya terdengar sangat merdu. Aku mulai merasa merindukan suara itu.
            Aku berlari menghampirinya
            Dia berdiri ditengah padang rumput. Kedua tangannya terentang. Wajahnya mendongak keatas menatap langit yang biru. Kulit putihnya yang pucat terlihat bercahaya terkena sinar matahari. Kedua matanya terpejam, menikmati hangatnya sinar matahari untuk terakhir kali.
            Mendengar langkah kakiku, dia membuka kedua matanya. Matanya yang merah menatapku penuh cinta.
Dalam sekejap dia sudah berada didepanku dan memelukku. Meminta maaf padaku dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku.
Pertahananku mulai runtuh. Aku tidak dapat lagi menahan rasa sedih ini. Air mataku mengalir membasahi pipiku tanpa henti.
Setelah memeluk dan menciumku, dia berlutut didepanku_dengan lembut dipegangnya telapak tangan kiriku. Dia menyematkan sebuah cincin dijari manisku dan mengecupnya.
Dia menatapku, memandangi wajahku, seakan-akan sedang menyimpan rapat-rapat semua kenangan yang telah kita lalui bersama. Mengucapkan kata perpisahan dan perlahan-lahan menghilang_berubah menjadi butiran-butiran cahaya.
Aku terduduk lemas....aku menangis....
Butiran-butiran cahaya itu terus berkumpul menjadi satu cahaya putih yang terang, melayang-layang mengitariku dan menghilang seakan-akan masuk kedalam cincinku.
Aku yakin Kame berada didalam cincinku dan selalu menemaniku dimanapun aku berada. Aku menjaga cincin ini sepenuh hatiku. Berharap suatu saat Kame akan keluar dan menemuiku dari dalam cincin ini.
Dengan menghilangnya Kame, serangan dari para demon pun berakhir. Kini aku meneruskan hidupku dalam kesendirian lagi...Aku hampir lupa bagaimana rasanya sendiri sejak kehadiran Kame disisiku. Aku harus bertahan dan berusaha, aku tidak ingin pengorbanan Kame sia-sia. Aku harus hidup.....!!
“Kame.......Kame........aku mencintaimu!”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar