Selasa, 28 Juni 2011

yakusoku (promise..) part 1

sebelumnya...untuk para penggemar KATTUN, terutama fans nya AKAME, Junno dan Maru, gomen na  kalau ada kekurangan disana sini. hounto ni gomen nasai, kalau kurang sreg sama jalan ceritanya. tokoh utama dicerita ini adalah Jin dan cerita ini mengambil sudut pandang sebagai orang pertama, yaitu sebagai Jin. q juga ga nyangka kalau ceritanya bakalan jadi agak-agak yaoi gini. yah moga-moga kalian semua suka..


1.   Mimpi Buruk

            Aku berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak yang gelap. Suara jantungku berdegup dengan kencang sehingga aku bisa mendengarnya memekakkan telingaku. Hutan Mountdew dimalam hari sangat menakutkan. Bayangan pohon-pohon pinus yang berdiri dengan angkuh tampak seperti cakar setan yang akan menerkamku. Aku merasa ratusan pasang mata penghuni hutan sedang mengikuti langkahku, mengawasiku dari kejauhan_siap untuk memangsaku disaat aku lengah.
            Suara-suara burung hantu mengejutkanku, membuatku semakin gelisah_tak tenang.
            Kututup rapat-rapat kedua telingaku dengan tangan_meredam suara-suara itu. Dinginnya tanganku membuat telingaku seperti terkena es.
            Kubulatkan tekad, berusaha menghibur diriku sendiri.
Hutan ini seperti berguncang, berputar-putar mengelilingiku_siap untuk menelanku hidup-hidup.
Langkahku terhenti,kemudian baru kusadari ternyata bukan hutan ini yang berguncang dengan keras_tubuhkulah yang bergetar sangat keras. Aku gemetaran dan ketakutan.
“Aku harus bisa bertahan..”, gumamku pelan.
“Tinggal menelusuri jalan setapak ini, Jin… Ayo.. Sedikit lagi, kau pasti bisa keluar dari hutan ini”, aku mencoba berpikir positif untuk menutupi rasa takutku.
“Tenang Jin…tenangkan dirimu”, badanku bergetar semakin keras, kucoba menghela nafas dalam-dalam_menenangkan diriku sendiri.
“Jangan panik..!Jalan ini sudah sering kau lewati..”,teriakku_putus asa.
Hembusan angin malam yang dingin menerpa kulitku tanpa ampun. Seolah seperti tembok transparan yang ingin menghentikan langkahku untuk terus berjalan_menusuk-nusuk kulitku seperti ribuan jarum es kecil _langsung tepat menembus dagingku.
Kulitku terlihat semakin pucat_kedinginan. Kugeraikan rambutku yang tanggung dengan harapan dapat sedikit menutupi leherku yang mulai membeku. Kugosok-gosokkan kedua telapak tanganku yang membiru, mencari sedikit kehangatan. Tapi semuanya sia-sia…dingin itu semakin dalam menusuk kulitku merasuk kedalam tulang-tulangku.
 Gemetaran…aku memaksa diriku untuk terus berjalan, terus_mengikuti jalan setapak yang sempit, terjal dan berkelok-kelok bagai sebuah labirin raksasa.
Kupicingkan mataku_mencoba membiasakan diri untuk melihat dikegelapan malam. Semua terlihat kabur__aku seperti orang buta yang tersesat….
            Meraba-raba, mencoba mengenali keadaan disekitarku
_mencari jalan keluar.
Menghindari semak-semak berduri dan ranting-ranting pohon yang menghadang setiap langkahku dan berusaha menjerat kedua kakiku yang letih.
Beberapa kali aku tersandung, terjatuh dan terjerembab__ mencium kerasnya permukaan tanah, meninggalkan ruam biru di wajah dan sekujur tubuhku.
Celana jeansku yang lusuh terlihat semakin kotor penuh noda tanah dan lumpur.
Jalan ini terasa lebih panjang dari biasanya. Aku berjalan terengah-engah__mulai kehabisan nafas. Aku tidak sanggup berjalan lagi…
Aku mencoba membangun kembali sisa-sisa harapanku yang sedikit demi sedikit mulai runtuh. Aku tidak boleh menyerah…
Kubayangkan betapa nyaman dan hangatnya kamarku di asrama, ranjangku yang empuk…aku juga bisa membayangkan wajah Maru, teman sekamarku_yang cemas dan gelisah memikirkan keadaanku.
Kupaksakan diriku untuk terus berjalan, walaupun aku tahu tubuhku sudah menyerah_tidak mau berkompromi lagi. Mengabaikan ranting-ranting tajam yang menghujam dan menyayat tubuhku. Menggores kulitku yang tampak rapuh, meninggalkan luka merah darah memanjang__kontras dengan warna kulitku yang putih dan pucat.
Sudah berapa lama aku berjalan…sejam…dua jam… tiga jam… atau selamanya…rasanya jalan ini tidak berujung. Aku cuma berjalan berputar-putar tanpa akhir. Terjebak didalamnya…
Samar-samar…dikejauhan…aku melihat secercah cahaya mengintip dari balik bayang-bayang pepohonan.
Kugosok-gosok kedua mataku__berusaha memastikan apa yang baru saja kulihat.
Mungkinkah itu cahaya lampu...aku takut penglihatanku telah menipuku. Aku takut aku mulai mengalami delusi dan jadi gila karena putus asa.
Tapi setelah kupikir-pikir lagi, apa salahnya mencoba.
Kuabaikan tubuhku yang menjerit kelelahan_aku berlari dan terus berlari menuju kearah sumber cahaya itu. Kupaksakan kedua kakiku untuk terus melangkah. Kutepiskan ribuan jarum angin yang menusuk-nusuk tulangku. Kucoba mengalihkan pikiranku dari rasa perih disekujur tubuhku yang terluka.
Setelah jauh aku berlari... Disana__dibalik pepohonan itu…
Sebuah rumah tua berdiri tegak membelah kegelapan malam. Rumah itu terlihat suram. Beberapa bagiannya telah rusak. Cahaya lampu yang memancar dari celah-celah jendelanya terlihat bagaikan cahaya kunang-kunang dikejauhan. Banyak lumut menempel dibeberapa bagian jendela dan dindingnya. Cat dindingnya yang putih mulai terlihat kusam dan mengelupas dibeberapa bagian.
Rumah itu sepi__terlalu sepi malah.
Aneh…seingatku tidak ada rumah tua di hutan Mountdew. Sepanjang ingatanku, kalau memang aku masih benar-benar waras_asramaku lah satu-satunya bangunan yang ada didekat hutan ini.
Dibelakang rumah itu aku bisa melihat padang rumput yang sangat luas. Benar-benar pemandangan yang aneh dan tidak dapat dipercaya. Sekarang aku merasa benar-benar gila_karena setahuku tidak pernah ada padang rumput di hutan Mountdew.
Penasaran…kuputuskan melihat rumah itu lebih dekat, walaupun jujur_aku ketakutan setengah mati.
Lampu di teras depan mati, jadi aku berusaha melihat dalam kegelapan_mengandalkan sedikit penerangan cahaya lampu yang mengintip dari celah-celah jendela.
Samar-samar aku melihat ada beberapa pot yang tertata rapi didekat pintu masuk. Aku mendekatinya untuk melihat lebih jelas lagi. Pot-pot itu berwarna coklat kusam dan dibeberapa bagiannya telah retak. Tanaman didalamnya terlihat kering dan layu.
Tidak jauh dari pot-pot retak itu aku bisa melihat sebuah kursi antik yang kotor tertutup oleh debu. Warnanya yang putih mulai berubah menjadi kuning kecoklatan. Ada beberapa bagian yang telah lapuk dan berlubang. Aku melihat laba-laba hitam dan besar bersarang dibawahnya.
Pintu rumah itu terbuat dari kayu yang dipelitur dengan warna hitam_sehitam arang. Sangat kontras dengan dinding rumahnya yang putih. Yah_walaupun warnanya sudah mulai berubah kecoklatan karena termakan oleh waktu.
Kuberanikan diri untuk masuk kedalam rumah. Rumah itu terlihat seperti sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Tapi kalau rumah ini kosong_siapa yang sudah menyalakan lampu-lampunya…
Tanganku gemetaran memegang daun pintu yang berdebu dan dingin, jantungku berdegup dengan kencang seperti siap melompat keluar dari rongga dadaku. Kuputar daun pintu itu pelan-pelan_mencoba untuk membukanya.
Ternyata...terkunci dari dalam…
Kucoba untuk mengetuk pintu__sepi tidak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi…lalu terdiam mematung menunggu…berharap ada seseorang yang datang dari dalam membukakan pintunya untukku..
Kuketuk lagi…lagi…lagi…dan lagi…
Sepi…aku cuma bisa mendengar suara hembusan angin yang mengejekku.
Aku mulai putus asa_dengan histeris kupukul-pukul pintu dengan kepalan tanganku sampai tanganku terasa sakit dan aku berhenti.
“Tenang Bea…”, bisikku, kuelus-elus dadaku dengan tangan kananku.
Kuambil nafas dalam-dalam. Kuhirup udara masuk memenuhi seluruh rongga dadaku, lalu kuhembuskan pelan-pelan.
Aku mencoba untuk berpikir…
Lalu ide itu datang bagaikan setitik kecil cahaya lampu yang mulai menerangi hatiku.
Mungkin pemilik rumah ini meninggalkan kuncinya disekitar sini. Bagaikan orang kesurupan aku menggeledah setiap inchi teras rumah ini.  Tidak ada satu pun tempat yang terlewatkan. Aku berjalan mengitari rumah mencari celah dimana aku bisa masuk kedalam.
Saat tersadar bahwa semua usahaku sia-sia, mataku terasa panas seperti terbakar. Air mata mulai menggenangi mataku, mengaburkan pandanganku. Aku mulai terisak-isak_menangis.
Semakin keras kuberusaha menahannya, air mataku semakin deras membasahi wajahku.
Aku duduk dan bersandar didinding disebelah pintu. Lututku terasa lemas dan menyerah menopang kedua kakiku untuk berdiri. Kuusapkan kedua tanganku_menghapus jejak air mata dipipiku.
Aku merasa lelah…Lelah untuk berjalan lagi, lelah karena terus menangis, lelah untuk terus berharap. Mataku terasa semakin berat…Pelan-pelan kupejamkan mataku dan kurasa aku langsung tertidur.
Samar-samar kudengar suara-suara yang memanggil namaku. Berusaha untuk menarikku keluar dari kegelapan__sepertinya aku pernah mendengar suara itu. Suara itu tampak tidak asing lagi ditelingaku.
Aku berusaha membuka kedua mataku dan bangun. Rasanya berat sekali. Seperti ada lem yang menempel di kelopak mataku dan membuatku susah untuk membuka mata.
Setelah berjuang dengan keras melawan kedua mataku_aku keluar sebagai pemenangnya.
Pelan-pelan kubuka kedua kelopak mataku. Aku berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang menyilaukan mataku. Aku mencari sumber cahaya yang menyilaukan mataku_ternyata cahaya itu berasal dari lampu di sebelah ranjangku.
Aku mulai bisa melihat pemandangan yang tidak asing lagi_aku bisa melihat dinding kamarku di asrama, melihat lemari pakaianku dan buku-buku yang berantakan diatas meja belajarku.
Suara itu terus memanggil-manggilku…dengan bingung aku mencari sumber suara itu.
Aku melihat Nakamaru, teman sekamarku, duduk disamping ranjangku. Memandangiku dengan tatapan cemas. Tangan kanannya memegangi tanganku, sementara tangan kirinya mengelus-elus kepala dan rambutku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Oh…Jin…akhirnya kau bangun juga. Aku khawatir sekali…”, Maru masih memandangiku dengan cemas.
“Pasti kau mimpi buruk lagi…Kau tidur sambil mengigau dan menangis. Katakan padaku Jin, apa yang terjadi?”
“Aku…bermimpi…”, suaraku nyaris tersangkut di tenggorokan. Tenggorokanku terasa kering sekali.
Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Apakah mungkin semua yang telah kualami hanyalah sebuah mimpi buruk atau justru sebaliknya__semua kejadian yang baru saja kualami adalah kenyataan yang sesungguhnya dan sekarang aku sedang bermimpi, memimpikan kamarku satu-satunya tempat yang dapat membuatku merasa aman dan memimpikan Maru..
Aku bingung...Kepalaku terasa berat_pusing...pandanganku berputar-putar.
“Jin...kau baik-baik saja kan?” bertanya panik kepadaku.
“Maru...”, jawabku pelan.
Nakamaru mendekatkan wajahnya ke wajahku, berusaha untuk mendengar suaraku yang lemah.
“Tolong...cubit aku...”
“Apa...?” Maru terkejut mendengar jawabanku.
“Katakan sekali lagi...”, kata Maru, tak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Cubit...aku...Please...”, aku memohon pada Maru.
Wajah Nakamaru terlihat semakin kebingungan.
“Jika terasa sakit, aku tahu kalau aku sekarang sudah terbangun dan tidak sedang bermimpi”, aku berusaha menjelaskan pada Maru.
Nakamaru langsung setengah tersenyum. Tapi penjelasanku belum bisa menghilangkan kepanikan yang tergambar jelas diwajahnya.
“Aduh Jin...Kau membuatku panik”, kata Maru sambil mencubit lengan kananku.
Secara refleks aku langsung menarik lengan kananku. Kuelus-elus bekas cubitan Maru dengan tangan kiriku. Berdasarkan rasa sakit dilenganku, aku meyakinkan diriku sendiri kalau sekarang aku sudah terbangun.
Nakamaru tersenyum melihat tingkahku_kemudian mulai menggodaku, “ Nah...kan...sekarang kau tidak sedang bermimpi”.
“Jangan salahkan aku lo kalau sekarang lenganmu terasa sakit, kan kau sendiri yang minta...”.
“Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu histeris seperti ini?” tanya Maru, Nakamaru terlihat sangat penasaran.
Melihat ekspresi wajahnya yang penasaran aku jadi sedikit ingin menggodanya.
Aku diam sesaat, menatap Nakamaru dengan datar__pura-pura kebingungan. Nakamaru semakin tidak sabar, dia terus mendesakku.
“Ayolah Jin...Kamu membuatku jadi semakin penasaran”, nada bicaranya lebih tinggi. Kedua alisnya mengerut, hampir menjadi satu garis. Bibirnya mengerucut, tanda sedang merajuk.
Aku bangun dari ranjangku kemudian duduk disebelah Nakamaru yang semakin tidak sabar ingin mendengar ceritaku.
Kupejamkan mataku, kutarik nafasku dalam-dalam kemudian kuhembuskan pelan-pelan, lalu dengan suara datar aku berkata, “Ok...aku akan ceritakan semuanya...”.
Nakamaru mengubah posisi duduknya, badannya dicondongkan kearahku, kaki kanannya bertumpu di atas kaki kirinya, disibakkan rambut yang menutupi telinganya__siap mendengarkanku...Kedua tangannya menggenggam erat tanganku.
Aku berusaha menyusun kembali potongan-potongan mimpiku, dari kejadian aku tersesat dan berjalan berputar-putar di hutan Mountdew, padang rumput aneh yang kulihat, sampai rumah tua yang kutemukan. Kemudian menceritakannya kembali pada Nakamaru. Aku mencoba menahan emosiku dan bercerita dengan ekspresi sedatar dan sewajar mungkin__aku tidak mau membuat Nakamaru tambah cemas. Nakamaru dengan setia mendengarkanku. Sesekali dia memotong ceritaku dan berkata, “ah...”, atau “oh...” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nakamaru berusaha menunjukkan simpatinya padaku, “Oh...Jin, buruk sekali mimpimu malam ini...”.
“Syukurlah sekarang mimpi burukmu sudah berakhir”.
“Mau kuambilkan air minum?” tanya Nakamaru sambil sedikit memaksa. “Supaya kau lebih tenang...”
Aku mengangguk pelan, “Trims Maru...kau baik sekali”.
Sepanjang sisa malam, Nakamaru berusaha memastikan aku baik-baik saja. Aku berusaha meyakinkannya kalau aku sudah baikkan dan sekarang satu-satunya yang ku inginkan adalah tidur kembali di ranjangku yang empuk.
Aku sendiri memaksa Nakamaru untuk beristirahat dan tidur_kasihan Maru, wajahnya terlihat capek dan ngantuk. Tapi Nakamaru memaksa ingin menemaniku sampai aku tertidur. Aku terpaksa harus membujuknya agar mau menurutiku. Akhirnya...Nakamaru menyerah dan mengikuti kata-kataku.
Dia langsung tertidur lelap seperti bayi di ranjangnya setelah untuk yang terakhir kalinya menge-check keadaanku dan berusaha memastikan aku baik-baik saja. Pelan-pelan, tanpa suara aku berjalan berjingkat menghampirinya, memadamkan lampu disebelah ranjangnya kemudian memadamkan lampu disebelah ranjangku. Kupandangi Nakamaru, memastikan dia tidak terbangun dari tidurnya. Dia terlihat begitu tenang dan damai, tak terusik sedikit pun. Kurasa suara sirine kebakaran tidak akan mampu membangunkannya.
Sementara aku sendiri berbaring kembali di ranjangku yang empuk dan nyaman. Kutarik selimutku yang lembut dan hangat sampai menutupi pinggangku. Kubetulkan letak bantalku, dengan gelisah kubalikkan badanku ke kiri dan ke kanan_mencari posisi tidur yang nyaman.
Kucoba mengosongkan pikiranku. Berusaha melupakan semua mimpi burukku. Kupejamkan kedua mataku_mencoba untuk tidur. Tapi...usahaku sia-sia...rasanya seperti habis minum bergelas-gelas kafein. Semakin aku berusaha untuk tidur, mataku malah semakin susah untuk dipejamkan.
Aku menyerah__sepanjang sisa malamku kuhabiskan dengan berbaring, menatap langit-langit kamarku sampai sinar matahari pagi mengintip dari balik tirai jendela kamarku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar